![]() |
| Baduy Luar Village with its Durians |
"Aku mau pulang aja !, udah nggak tahan, badanku sakit" keluh saya kepada kedua teman seperjalanan saya.
"Mba Agnes, mau istirahat dulu? nggak apa-apa, nanti kita jalan lagi." teman saya Riri, menimpali keluhan saya.
"Nggak usah, terus aja, biar cepat sampai." jawab saya sembari terisak dan mengeluh dalam hati.
"Kenapa sy hari ini saya disini?? kenapa saya malah berkotor-kotaran dan terjatuh berkali-kali di hutan ini? ini kan new year eve, harusnya saya sekarang ada di Boracay atau harusnya saya tetap di Jakarta saja siap siap, dandan yang cantik untuk party nanti malam" gumam saya dalam hati, sambil meneruskan langkah saya melewati tanjakan-tanjakan tanah lempung berkerikil dan licin itu.
Sementara itu, teman saya Riri jalan lebih dulu dengan lincahnya di depan saya bersama dengan Sapri, salah satu temannya, pemuda baduy dalam, dan Ubay, teman Riri yang jalan di belakang saya hanya tersenyum kecil melihat tingkah saya.
Ya, hari ini adalah hari kedua saya berada di Baduy Dalam, sebuah desa terpencil yang terletak di pedalaman Banten, Jawa Barat, dimana masyarakatnya masih tertutup dari pengaruh budaya luar. Masyarakatnya masih hidup dengan cara yang sangat sederhana. Mungkin kalau orang-orang sering menyebut kata "Simple Life", ya itulah kata yang tepat sekali untuk menggambarkan cara hidup masyarakat Baduy Dalam. Tidak ada listrik, Tidak ada sinyal handphone, Mandi tidak pakai sabun dan shampo, Tidak gosok gigi, Cuci baju tidak pakai detergen, Mencuci piring tidak pakai mama lemon. Semua ritual bersih-bersih itu hanyalah menggunakan air sungai saja, titik. Air sungai yang benar-benar jernih, putih bening, tidak ada zat kimia yang mencemari, hanya ada batuan batuan kali berukuran besar yang seakan berpijak pada tanah dan membiarkan aliran air melewatinya.
Setelah kurang lebih 4 jam saya berjalan dan dua kali terjatuh dan entah berapa kali saya hampir terjatuh, kami berhenti di rumah salah seorang teman Sapri, Sanip namanya. Sanip hanya tinggal berdua saja dengan istrinya, Sarniah. Mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sarniah masih sangat muda, 15 tahun usianya, cantik, berkulit putih mulus, berambut pendek, berbadan montok, dan kuku tangannya pun ber-kuteks dengan warna merah muda. Untuk ukuran perempuan Badui Dalam, Sarniah tergolong perempuan yang berani bicara dengan orang asing. Dia beberapa kali menimpali obrolan kami dan tidak segan-segan ikut duduk di bale-bale dengan kami, menikmati kopi hitam dengan gula aren dan pisang bakar buatan Sanip.
Menikmati kopi hitam dan pisang bakar di bale bale rumah Sanip dan Sarniah sembari mengobrol dengan teman teman saya dan beberapa pemuda Baduy Dalam di tengah rintik gerimis, membuat kami enggan mengangkat tubuh kami, melanjutkan perjalanan akhir ke saung milik Sapri. Di Saung Sapri itulah kami merencanakan akan menyambut malam tahun baru 2013 dengan menyalakan kembang api bersama Sapri dan kawan-kawan. Setelah lebih dari satu jam kami menghabiskan waktu di rumah Sanip, akhirnya kami pun beranjak menuju saung Sapri, yang katanya berada tidak jauh dari rumah Sanip.
"Tidak jauh? sudah dekat? mmm, nggak mungkin, dekat untuk orang Baduy pasti teramat jauh untuk saya." gumam saya dalam hati.
Ternyata kali ini memang jarak yang kami tempuh tidaklah begitu jauh, walaupun tetap kami tidak bisa menghindari struktur jalanan yang menanjak curam dengan tanah lempung yang licin dan berkerikil. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan beberapa perempuan Baduy paruh baya, yang dengan lincah, cepat dan mudahnya mereka menyusuri jalan curam itu, padahal mereka menggendong bakul berat berisi piring di punggungnya dan juga menggendong anak di dadanya. Kami juga berpapasan dengan anak-anak kecil Baduy, berumur tidak lebih dari 5 tahun, yang dengan lincah nya berlari - lari menyusuri jalanan curam itu. Mungkin mereka memang telah menyatu dengan alam Baduy ini, tentu saja, sejak lahir mereka terus berada di sini, tidak pernah pergi ke dunia luar, tidak di perbolehkan menaiki kendaraan, tidak mengijinkan pemerintah untuk membangun jalan, bagaimana mereka tidak menjadi sedekat itu dengan alam, yang pastinya sangatlah berbeda dengan saya dan makhluk metropolitan pada umumnya, yang sudah terbiasa dengan sarana transportasi yang mudah bahkan kami pun masih sering mengeluh capek meskipun hanya menempuh perjalanan yang tidak seberapa jauh di kota dengan kendaraan pula, betapa makhluk metropolitan terlihat begitu dimanjakan oleh semua fasilitas yang ada bila dibandingkan dengan penduduk Baduy yang harus naik turun bukit, gunung, hutan, sungai dan harus jalan kaki !
Saung Sapri, bentuknya tidak banyak berbeda dengan rumah penduduk Baduy Dalam yang kami tinggali malam sebelumnya. Bangunan rumah panggung, yang biliknya terbuat dari anyaman bambu, beratapkan daun rumbia, dan berpondasikan batu kali yang besar dan kayu sebagai penyangga bilik, dan di bagian depan pintu masuk terdapat bale-bale yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk sekaligus tempat meletakkan botol-botol bambu berisikan air untuk mencuci tangan dan kaki. Hanya ukuran yang lebih kecil saja yang membedakan saung Sapri dengan rumah - rumah penduduk di desa.
Ketika kami tiba di saung Sapri, terlihat istri Sapri, yang namanya juga Sarniah, sudah berada di dalam bilik mengaduk nasi yang akan segera kita santap pastinya. Waktu setempat menunjukkan pukul 5 sore, sore terakhir di tahun 2012! Setelah makanan siap disajikan, kami pun duduk di bale-bale menikmati lezatnya nasi merah, tempe goreng dan ikan asin dan tak ketinggalan juga sambal kecap! Lezat! Bagaimana tidak lezat, setelah seharian naik turun bukit, akhirnya kami dapat menikmati hidangan yang masih hangat dengan disuguhi pemandangan indah landscape perbukitan yang mengelilingi saung Sapri menjelang pergantian tahun 2013 ini. Sore yang indah ....
19:00....
Gelapnya malam mulai menaungi langit Baduy, kami semua pun masuk ke dalam bilik menghindari dinginnya angin malam. Beberapa pemuda Baduy, teman Sapri, datang untuk menyambut tahun baru bersama kami. Ada Safri, pemuda Baduy tampan anak sang Jaro (kepala adat), Yadi, pemuda Baduy yang rumah ayahnya kami tinggali ketika kami ada di kampung Cibeo, Juli, pemuda Baduy yang selama 2 hari kami di Baduy menjadi koki karena selalu memasak dan mencuci piring untuk kami semua, dan tidak ketinggalan Sapri, pemilik saung dan juga Sanip yang tadi sore kami singgahi rumahnya.
Walaupun baru 2 hari kami ( Saya dan Ubay ) baru mengenal kelima pemuda Baduy tersebut, kami sudah merasa akrab, seperti teman lama yang sedang berkumpul merayakan tahun baru bersama. Terlebih Riri, dia sudah 3 kali keluar masuk kampung Baduy, yang tentunya sudah sangat kenal dengan kelima pemuda Baduy itu.
Sembari menunggu pergantian tahun, kami asyik mengobrol dan bercanda, ada saja bahan pembicaraan yang bisa kami jadikan obrolan, mulai dari para pemuda Baduy yang curhat mengenai kisah cinta mereka sampai pada pertanyaan mereka akan teknologi dan gadget yang ada di dunia luar. Belum juga tengah malam datang, namun kami sudah mengantuk, mungkin karena saking kenyangnya perut kami dan dinginnya udara malam. Akhirnya pada pukul 23:30, kami pun memutuskan untuk menyalakan kembang api yang kami beli di pasar Rangkasbitung. Para pemuda Baduy cukup antusias untuk memegang kembang api dan menyalakannya. Wajah mereka terlihat antusias, ceria, dan penuh harap sekali ketika sebuat kawat yang mereka pegang, setelah diberi api berangsur angsur menjadi bunga api yang sinarnya meloncat-loncat. Mereka tertawa kegirangan sambil tak lupa melakukan beberapa pose, karena mereka tau kami bertiga pastinya akan mengabadikan potret wajah mereka.
00:00..
Kembang api pun habis, kami semua duduk mengelilingi lilin yang menyala di depan perapian dapur, kami satu per satu mengucapkan harapan kami di tahun 2013, ada yang mengucapkannya dan ada pula yang hanya mengucapkan dalam hati. Amin.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan darat yang berliku, sejak kami berangkat di dalam kereta ekonomi rangkasjaya dari tanah abang, yang penuh sesak dengan manusia, kemudian sempat tertipu oleh calo elf di terminal Aweh yang membuat kami salah naik elf, dan mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan menuju kampung Karoya dengan ojek motor di tengah rintik hujan, dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, jalan kaki di atas tanah lempung yang licin dan berlumpur, terjatuh berkali kali untuk mencapai kampung Cibeo di Baduy Dalam, dan lagi kami harus berjalan kurang lebih 4 jam lagi untuk mencapi saung Sapri, sampai akhirnya kami bisa duduk bersama di saung Sapri yang sangat sederhana dengan perayaan yang sangat sederhana sekali, hanya menyalakan 15 batang kembang api kecil, jauh dari suasana gelegar kembang api di tengah kota sana, jauh dari pesta yang mewah dengan makanan dan minuman yang berlimpah, jauh dari gemerlap sorot lampu, jauh dari hingar bingar musik dan bunyi terompet serta tawa dan teriakan orang orang yang merayakan datangnya tahun 2013.
Namun kami di sini, di bumi Baduy yang sangat sunyi juga merasakan kebahagian perayaan tahun baru, dengan cara yang lain, cara yang sangat sederhana, yang tidak memerlukan financial effort yang berlebih untuk memaknai datangnya tahun baru, dengan para pemuda Baduy dengan segala keterbatasan mereka yang dengan tulus menerima kami dan mau berbagi kebahagian dan harapan di tahun 2013.
Tidak ada lagi kekesalan seperti yang saya rasakan beberapa hari lalu, tertinggal pesawat ke Manila, akibat keteledoran saya sendiri membaca flight schedule saya, padahal saya hanya tinggal membawa diri saya, 3 bulan sudah saya siapkan semuanya, bayangan pantai pantai di Boracay seakan begitu dekat. Namun, apa mau dikata, mungkin alam semesta memang tidak mengijinkan saya ke Boracay, alam semesta sudah memilihkan tempat untuk saya merayakan tahun baru sejak semula. Tanpa segala bayangan dan rencana, saya ada di bumi Baduy sekarang, merayakan tahun baru.
Happy New Year 2013 All !
Setelah kurang lebih 4 jam saya berjalan dan dua kali terjatuh dan entah berapa kali saya hampir terjatuh, kami berhenti di rumah salah seorang teman Sapri, Sanip namanya. Sanip hanya tinggal berdua saja dengan istrinya, Sarniah. Mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sarniah masih sangat muda, 15 tahun usianya, cantik, berkulit putih mulus, berambut pendek, berbadan montok, dan kuku tangannya pun ber-kuteks dengan warna merah muda. Untuk ukuran perempuan Badui Dalam, Sarniah tergolong perempuan yang berani bicara dengan orang asing. Dia beberapa kali menimpali obrolan kami dan tidak segan-segan ikut duduk di bale-bale dengan kami, menikmati kopi hitam dengan gula aren dan pisang bakar buatan Sanip.
Menikmati kopi hitam dan pisang bakar di bale bale rumah Sanip dan Sarniah sembari mengobrol dengan teman teman saya dan beberapa pemuda Baduy Dalam di tengah rintik gerimis, membuat kami enggan mengangkat tubuh kami, melanjutkan perjalanan akhir ke saung milik Sapri. Di Saung Sapri itulah kami merencanakan akan menyambut malam tahun baru 2013 dengan menyalakan kembang api bersama Sapri dan kawan-kawan. Setelah lebih dari satu jam kami menghabiskan waktu di rumah Sanip, akhirnya kami pun beranjak menuju saung Sapri, yang katanya berada tidak jauh dari rumah Sanip.
![]() |
| Brown Sugar from Baduy |
Ternyata kali ini memang jarak yang kami tempuh tidaklah begitu jauh, walaupun tetap kami tidak bisa menghindari struktur jalanan yang menanjak curam dengan tanah lempung yang licin dan berkerikil. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan beberapa perempuan Baduy paruh baya, yang dengan lincah, cepat dan mudahnya mereka menyusuri jalan curam itu, padahal mereka menggendong bakul berat berisi piring di punggungnya dan juga menggendong anak di dadanya. Kami juga berpapasan dengan anak-anak kecil Baduy, berumur tidak lebih dari 5 tahun, yang dengan lincah nya berlari - lari menyusuri jalanan curam itu. Mungkin mereka memang telah menyatu dengan alam Baduy ini, tentu saja, sejak lahir mereka terus berada di sini, tidak pernah pergi ke dunia luar, tidak di perbolehkan menaiki kendaraan, tidak mengijinkan pemerintah untuk membangun jalan, bagaimana mereka tidak menjadi sedekat itu dengan alam, yang pastinya sangatlah berbeda dengan saya dan makhluk metropolitan pada umumnya, yang sudah terbiasa dengan sarana transportasi yang mudah bahkan kami pun masih sering mengeluh capek meskipun hanya menempuh perjalanan yang tidak seberapa jauh di kota dengan kendaraan pula, betapa makhluk metropolitan terlihat begitu dimanjakan oleh semua fasilitas yang ada bila dibandingkan dengan penduduk Baduy yang harus naik turun bukit, gunung, hutan, sungai dan harus jalan kaki !
Saung Sapri, bentuknya tidak banyak berbeda dengan rumah penduduk Baduy Dalam yang kami tinggali malam sebelumnya. Bangunan rumah panggung, yang biliknya terbuat dari anyaman bambu, beratapkan daun rumbia, dan berpondasikan batu kali yang besar dan kayu sebagai penyangga bilik, dan di bagian depan pintu masuk terdapat bale-bale yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk sekaligus tempat meletakkan botol-botol bambu berisikan air untuk mencuci tangan dan kaki. Hanya ukuran yang lebih kecil saja yang membedakan saung Sapri dengan rumah - rumah penduduk di desa.
![]() |
| View from Saung Sapri, Cibeo Village, Baduy Dalam |
19:00....
Gelapnya malam mulai menaungi langit Baduy, kami semua pun masuk ke dalam bilik menghindari dinginnya angin malam. Beberapa pemuda Baduy, teman Sapri, datang untuk menyambut tahun baru bersama kami. Ada Safri, pemuda Baduy tampan anak sang Jaro (kepala adat), Yadi, pemuda Baduy yang rumah ayahnya kami tinggali ketika kami ada di kampung Cibeo, Juli, pemuda Baduy yang selama 2 hari kami di Baduy menjadi koki karena selalu memasak dan mencuci piring untuk kami semua, dan tidak ketinggalan Sapri, pemilik saung dan juga Sanip yang tadi sore kami singgahi rumahnya.
Walaupun baru 2 hari kami ( Saya dan Ubay ) baru mengenal kelima pemuda Baduy tersebut, kami sudah merasa akrab, seperti teman lama yang sedang berkumpul merayakan tahun baru bersama. Terlebih Riri, dia sudah 3 kali keluar masuk kampung Baduy, yang tentunya sudah sangat kenal dengan kelima pemuda Baduy itu.
![]() |
| Baduy Dalam's Boys and Fireworks |
00:00..
Kembang api pun habis, kami semua duduk mengelilingi lilin yang menyala di depan perapian dapur, kami satu per satu mengucapkan harapan kami di tahun 2013, ada yang mengucapkannya dan ada pula yang hanya mengucapkan dalam hati. Amin.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan darat yang berliku, sejak kami berangkat di dalam kereta ekonomi rangkasjaya dari tanah abang, yang penuh sesak dengan manusia, kemudian sempat tertipu oleh calo elf di terminal Aweh yang membuat kami salah naik elf, dan mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan menuju kampung Karoya dengan ojek motor di tengah rintik hujan, dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, jalan kaki di atas tanah lempung yang licin dan berlumpur, terjatuh berkali kali untuk mencapai kampung Cibeo di Baduy Dalam, dan lagi kami harus berjalan kurang lebih 4 jam lagi untuk mencapi saung Sapri, sampai akhirnya kami bisa duduk bersama di saung Sapri yang sangat sederhana dengan perayaan yang sangat sederhana sekali, hanya menyalakan 15 batang kembang api kecil, jauh dari suasana gelegar kembang api di tengah kota sana, jauh dari pesta yang mewah dengan makanan dan minuman yang berlimpah, jauh dari gemerlap sorot lampu, jauh dari hingar bingar musik dan bunyi terompet serta tawa dan teriakan orang orang yang merayakan datangnya tahun 2013.
Namun kami di sini, di bumi Baduy yang sangat sunyi juga merasakan kebahagian perayaan tahun baru, dengan cara yang lain, cara yang sangat sederhana, yang tidak memerlukan financial effort yang berlebih untuk memaknai datangnya tahun baru, dengan para pemuda Baduy dengan segala keterbatasan mereka yang dengan tulus menerima kami dan mau berbagi kebahagian dan harapan di tahun 2013.
Tidak ada lagi kekesalan seperti yang saya rasakan beberapa hari lalu, tertinggal pesawat ke Manila, akibat keteledoran saya sendiri membaca flight schedule saya, padahal saya hanya tinggal membawa diri saya, 3 bulan sudah saya siapkan semuanya, bayangan pantai pantai di Boracay seakan begitu dekat. Namun, apa mau dikata, mungkin alam semesta memang tidak mengijinkan saya ke Boracay, alam semesta sudah memilihkan tempat untuk saya merayakan tahun baru sejak semula. Tanpa segala bayangan dan rencana, saya ada di bumi Baduy sekarang, merayakan tahun baru.
Happy New Year 2013 All !




No comments:
Post a Comment