Friday, January 4, 2013

New Year Eve 2013 (Terperangkap di Baduy Dalam)

Baduy Luar Village with its Durians
Di suatu siang, di tengah hutan hujan tropis, di bawah siraman rintik air hujan, untuk kedua kalinya saya jatuh tergelincir di atas tanah lempung yang licin karena air hujan. Tak usah dibayangkan lagi betapa kotornya celana jeans saya, kaos saya, dan juga tas ransel saya, dilapisi tanah lempung yang terlanjur melekat tak dapat dihindari. Punggung dan kaki saya pun menjadi nyeri, tentu saja nyeri, bayangkan tergelincir di tanjakan tanah lempung yang licin dengan batu batu kerikil  dan potongan akar pohon di atasnya. Tak usah dibayangkan pula bagaimana rupa kuku kaki saya yang sengaja saya beri nail polish orange, OPI pula, sekarang sudah bercampur dengan tanah lempung itu. 
"Aku mau pulang aja !, udah nggak tahan, badanku sakit" keluh saya kepada kedua teman seperjalanan saya.
"Mba Agnes, mau istirahat dulu? nggak apa-apa, nanti kita jalan lagi." teman saya Riri, menimpali keluhan saya.
"Nggak usah, terus aja, biar cepat sampai." jawab saya sembari terisak dan mengeluh dalam hati.
"Kenapa sy hari ini saya disini?? kenapa saya malah berkotor-kotaran dan terjatuh berkali-kali di hutan ini? ini kan new year eve, harusnya saya sekarang ada di Boracay atau harusnya saya tetap di Jakarta saja siap siap, dandan yang cantik untuk party nanti malam" gumam saya dalam hati, sambil meneruskan langkah saya melewati tanjakan-tanjakan tanah lempung berkerikil dan licin itu.
Sementara itu, teman saya Riri jalan lebih dulu dengan lincahnya di depan saya bersama dengan Sapri, salah satu temannya, pemuda baduy dalam, dan Ubay, teman Riri yang jalan di belakang saya hanya tersenyum kecil melihat tingkah saya.
Ya, hari ini adalah hari kedua saya berada di Baduy Dalam, sebuah desa terpencil yang terletak di pedalaman Banten, Jawa Barat, dimana masyarakatnya masih tertutup dari pengaruh budaya luar. Masyarakatnya masih hidup dengan cara yang sangat sederhana. Mungkin kalau orang-orang sering menyebut kata "Simple Life", ya itulah kata yang tepat sekali untuk menggambarkan cara hidup masyarakat Baduy Dalam. Tidak ada listrik, Tidak ada sinyal handphone, Mandi tidak pakai sabun dan shampo, Tidak gosok gigi, Cuci baju tidak pakai detergen, Mencuci piring tidak pakai mama lemon. Semua ritual bersih-bersih itu hanyalah menggunakan air sungai saja, titik. Air sungai yang benar-benar jernih, putih bening, tidak ada zat kimia yang mencemari, hanya ada batuan batuan kali berukuran besar yang seakan berpijak pada tanah dan membiarkan aliran air melewatinya.

Setelah kurang lebih 4 jam saya berjalan dan dua kali terjatuh dan entah berapa kali saya hampir terjatuh, kami berhenti di rumah salah seorang teman Sapri, Sanip namanya. Sanip hanya tinggal berdua saja dengan istrinya, Sarniah. Mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Sarniah masih sangat muda, 15 tahun usianya, cantik, berkulit putih mulus, berambut pendek, berbadan montok, dan kuku tangannya pun ber-kuteks dengan warna merah muda. Untuk ukuran perempuan Badui Dalam, Sarniah tergolong perempuan yang berani bicara dengan orang asing. Dia beberapa kali menimpali obrolan kami dan tidak segan-segan ikut duduk di bale-bale dengan kami, menikmati kopi hitam dengan gula aren dan pisang bakar buatan Sanip.

Menikmati kopi hitam dan pisang bakar di bale bale rumah Sanip dan Sarniah sembari mengobrol dengan teman teman saya dan beberapa pemuda Baduy Dalam di tengah rintik gerimis, membuat kami enggan mengangkat tubuh kami, melanjutkan perjalanan akhir ke saung milik Sapri. Di Saung Sapri itulah kami merencanakan akan menyambut malam tahun baru 2013 dengan menyalakan kembang api bersama Sapri dan kawan-kawan. Setelah lebih dari satu jam kami menghabiskan waktu di rumah Sanip, akhirnya kami pun beranjak menuju saung Sapri, yang katanya berada tidak jauh dari rumah Sanip.
Brown Sugar from Baduy
"Tidak jauh? sudah dekat? mmm, nggak mungkin, dekat untuk orang Baduy pasti teramat jauh untuk saya." gumam saya dalam hati.

Ternyata kali ini memang jarak yang kami tempuh tidaklah begitu jauh, walaupun tetap kami tidak bisa menghindari struktur jalanan yang menanjak curam dengan tanah lempung yang licin dan berkerikil. Di sepanjang jalan, kami berpapasan dengan beberapa perempuan Baduy paruh baya, yang dengan lincah, cepat dan mudahnya mereka menyusuri jalan curam itu, padahal mereka menggendong bakul berat berisi piring di punggungnya dan juga menggendong anak di dadanya. Kami juga berpapasan dengan anak-anak kecil Baduy, berumur tidak lebih dari 5 tahun, yang dengan lincah nya berlari - lari menyusuri jalanan curam itu. Mungkin mereka memang telah menyatu dengan alam Baduy ini, tentu saja, sejak lahir mereka terus berada di sini, tidak pernah pergi ke dunia luar, tidak di perbolehkan menaiki kendaraan, tidak mengijinkan pemerintah untuk membangun jalan, bagaimana mereka tidak menjadi sedekat itu dengan alam, yang pastinya sangatlah berbeda dengan saya dan makhluk metropolitan pada umumnya, yang sudah terbiasa dengan sarana transportasi yang mudah bahkan kami pun masih sering mengeluh capek meskipun hanya menempuh perjalanan yang tidak seberapa jauh di kota dengan kendaraan pula, betapa makhluk metropolitan terlihat begitu dimanjakan oleh semua fasilitas yang ada bila dibandingkan dengan penduduk Baduy yang harus naik turun bukit, gunung, hutan, sungai dan harus jalan kaki !

Saung Sapri, bentuknya tidak banyak berbeda dengan rumah penduduk Baduy Dalam yang kami tinggali malam sebelumnya. Bangunan rumah panggung, yang biliknya terbuat dari anyaman bambu, beratapkan daun rumbia, dan berpondasikan batu kali yang besar dan kayu sebagai penyangga bilik, dan di bagian depan pintu masuk terdapat bale-bale yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk sekaligus tempat meletakkan botol-botol bambu berisikan air untuk mencuci tangan dan kaki. Hanya ukuran yang lebih kecil saja yang membedakan saung Sapri dengan rumah - rumah penduduk di desa.

View from Saung Sapri, Cibeo Village, Baduy Dalam
Ketika kami tiba di saung Sapri, terlihat istri Sapri, yang namanya juga Sarniah, sudah berada di dalam bilik mengaduk nasi yang akan segera kita santap pastinya. Waktu setempat menunjukkan pukul 5 sore, sore terakhir di tahun 2012! Setelah makanan siap disajikan, kami pun duduk di bale-bale menikmati lezatnya nasi merah, tempe goreng dan ikan asin dan tak ketinggalan juga sambal kecap! Lezat! Bagaimana tidak lezat, setelah seharian naik turun bukit, akhirnya kami dapat menikmati hidangan yang masih hangat dengan disuguhi pemandangan indah landscape perbukitan yang mengelilingi saung Sapri menjelang pergantian tahun 2013 ini. Sore yang indah ....

19:00....
Gelapnya malam mulai menaungi langit Baduy, kami semua pun masuk ke dalam bilik menghindari dinginnya angin malam. Beberapa pemuda Baduy, teman Sapri, datang untuk menyambut tahun baru bersama kami. Ada Safri, pemuda Baduy tampan anak sang Jaro (kepala adat), Yadi, pemuda Baduy yang rumah ayahnya kami tinggali ketika kami ada di kampung Cibeo, Juli, pemuda Baduy yang selama 2 hari kami di Baduy menjadi koki karena selalu memasak dan mencuci piring untuk kami semua, dan tidak ketinggalan Sapri, pemilik saung dan juga Sanip yang tadi sore kami singgahi rumahnya.
Walaupun baru 2 hari kami ( Saya dan Ubay ) baru mengenal kelima pemuda Baduy tersebut, kami sudah merasa akrab, seperti teman lama yang sedang berkumpul merayakan tahun baru bersama. Terlebih Riri, dia sudah 3 kali keluar masuk kampung Baduy, yang tentunya sudah sangat kenal dengan kelima pemuda Baduy itu.
Baduy Dalam's Boys and Fireworks
Sembari menunggu pergantian tahun, kami asyik mengobrol dan bercanda, ada saja bahan pembicaraan yang bisa kami jadikan obrolan, mulai dari para pemuda Baduy yang curhat mengenai kisah cinta mereka sampai pada pertanyaan mereka akan teknologi dan gadget yang ada di dunia luar. Belum juga tengah malam datang, namun kami sudah mengantuk, mungkin karena saking kenyangnya perut kami dan dinginnya udara malam. Akhirnya pada pukul 23:30, kami pun memutuskan untuk menyalakan kembang api yang kami beli di pasar Rangkasbitung. Para pemuda Baduy cukup antusias untuk memegang kembang api dan menyalakannya. Wajah mereka terlihat antusias, ceria, dan penuh harap sekali ketika sebuat kawat yang mereka pegang, setelah diberi api berangsur angsur menjadi bunga api yang sinarnya meloncat-loncat. Mereka tertawa kegirangan sambil tak lupa melakukan beberapa pose, karena mereka tau kami bertiga pastinya akan mengabadikan potret wajah mereka.

00:00..
Kembang api pun habis, kami semua duduk mengelilingi lilin yang menyala di depan perapian dapur, kami satu per satu mengucapkan harapan kami di tahun 2013, ada yang mengucapkannya dan ada pula yang hanya mengucapkan dalam hati. Amin.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan darat yang berliku, sejak kami berangkat di dalam kereta ekonomi rangkasjaya dari tanah abang, yang penuh sesak dengan manusia, kemudian sempat tertipu oleh calo elf di terminal Aweh yang membuat kami salah naik elf, dan mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan menuju kampung Karoya dengan ojek motor di tengah rintik hujan, dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, jalan kaki di atas tanah lempung yang licin dan berlumpur, terjatuh berkali kali untuk mencapai kampung Cibeo di Baduy Dalam, dan lagi kami harus berjalan kurang lebih 4 jam lagi untuk mencapi saung Sapri, sampai akhirnya kami bisa duduk bersama di saung Sapri yang sangat sederhana dengan perayaan yang sangat sederhana sekali, hanya menyalakan 15 batang kembang api kecil, jauh dari suasana gelegar kembang api di tengah kota sana, jauh dari pesta yang mewah dengan makanan dan minuman yang berlimpah, jauh dari gemerlap sorot lampu, jauh dari hingar bingar musik dan bunyi terompet serta tawa dan teriakan orang orang yang merayakan datangnya tahun 2013.
Namun kami di sini, di bumi Baduy yang sangat sunyi juga merasakan kebahagian perayaan tahun baru, dengan cara yang lain, cara yang sangat sederhana, yang tidak memerlukan financial effort yang berlebih untuk memaknai datangnya tahun baru, dengan para pemuda Baduy dengan segala keterbatasan mereka yang dengan tulus menerima kami dan mau berbagi kebahagian dan harapan di tahun 2013.

Tidak ada lagi kekesalan seperti yang saya rasakan beberapa hari lalu, tertinggal pesawat ke Manila, akibat keteledoran saya sendiri membaca flight schedule saya, padahal saya hanya tinggal membawa diri saya, 3 bulan sudah saya siapkan semuanya, bayangan pantai pantai di Boracay seakan begitu dekat. Namun, apa mau dikata, mungkin alam semesta memang tidak mengijinkan saya ke Boracay, alam semesta sudah memilihkan tempat untuk saya merayakan tahun baru sejak semula. Tanpa segala bayangan dan rencana, saya ada di bumi Baduy sekarang, merayakan tahun baru.

Happy New Year 2013 All !


Friday, December 28, 2012

Mengejar Sunrise (Punthuk Setumbu)

Sunrise View from Punthuk Setumbu
Berawal dari sebuah keinginan untuk melihat matahari terbit di musim hujan, saya memantapkan tekad saya untuk menempuh perjalanan ini, SENDIRIAN! Tentu saja teman-teman, dan orang tua saya mencoba untuk melarang saya menempuh perjalanan ini sendiri. Terlalu berbahaya untuk seorang gadis muda, 24 tahun, dengan berat badan yang hanya 35 kg, menempuh perjalanan panjang SENDIRIAN hanya dengan membawa sebuah tas ransel yang ukurannya bahkan lebih besar dari tubuh saya. Apalagi saya harus melalui jalan darat, naik turun bus dan kereta, keluar masuk terminal dan stasiun, dan pastinya tidak dapat menghindari serbuan calo di tempat tujuan. Namanya juga darah muda, pantang bagi saya untuk mengurungkan niat tersebut, tidak ada yang bisa menghentikan perjalanan saya kecuali alam semesta sendiri yang meghendakinya, pikir saya.
Tibalah hari itu, 16 Desember 2012, pagi, saya meninggalkan jakarta menuju jogja tepat pukul 07.56 waktu Indonesia bagian barat dengan kereta api ekonomi ac gajah wong dari stasiun kereta pasar senen. Duduk di sebelah saya seorang laki-laki muda mungkin 27 tahun an dan 2 orang ibu - ibu paruh baya sekitar 50 tahun an. Kedua ibu - ibu itu memperhatikan saya dengan mimik muka yang mungkin mereka anggap saya aneh, perempuan, muda, kecil, dengan tas yang super besar, dan SENDIRIAN. Saya hanya tersenyum tipis membalas tatapan mereka, kemudian melayangkan pandangan saya kembali ke jendela kereta, masih pemandangan kota Jakarta, kota metropolitan, gedung-gedung, jalan tol, dan pemukiman kumuh di pinggiran rel kereta api. Pemandangan pun berubah cepat menjadi sawah gedung sawah gedung, pasti ini masih Jabodetabek area, gumam saya dalam hati.
Pandangan saya beralih ke hadapan dua ibu tadi, ternyata mereka sedang makan jajanan, seketika itu juga ibu yang duduk di dekat jendela menawari saya pisang goreng. 
"Pisang goreng, dik?" sambil mengulurkan pisang goreng itu kepada saya 
"terimakasih bu", tentu saja saya terima dengan senyum lebar dan dalam sekejap pisang itu sudah habis saya lahap. 
Kedua ibu tersebut kemudian bertanya kepada saya, 
"Adik mau pergi kemana?" 
"Magelang Bu."
"Ada saudara disana?"
" Iya Bu." Jawab saya singkat sambil tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan lagi ke jendela kereta.
Pemandangan sudah berubah lagi, sawah yang terbentang lebar dan hijau, pohon kelapa di beberapa pematang sawah, barisan tanaman palawija, sungai berbatuan besar, anak kecil bermain layangan, bebek, dan sesekali pemandangan jalur pantura yang padat dengan kendaraan antar pulau dan propinsi dan juga lampu lalu lintas dan lampu kuning sirine yang menghentikan laju pengendara motor di lintasan kereta api . Menikamti fragmen - fragmen pemandangan yang terlihat dari jendela kereta, seperti melihat gambar yag berjalan di rol film, hanya saja saya tidak dapat mengendalikan berapa lama saya dapat melihat gambar tersebut, tetapi laju kereta lah yang menentukan. Indah, Sejuk, Beautiful, Amazing, Wow, hanya itulah kata-kata yang terucap pelan setengah berbisik dari bibir saya dengan tatapan mata yang terbuka lebar dan sangat antusias.
Terlintas di pikiran saya, seandainya saya dapat melakukan perjalanan ini dengan dia, pastinya saya sudah berteriak : 
"Baby, look that's amazing, rite ?!"
 dan pastinya dia akan berkata: 
"Yes, darling, beautiful!"
dan pastinya lagi bibir saya akan sudah dipenuhi dengan ciuman ciuman singkatnya berkali kali.
Oh, ternyata masih saja dia yang terlintas di benak dan pikiran saya. Di tengah buaian pemandangan dan angan saya tersebut, tetiba ponsel saya berbunyi. 
"Hello, baby, where have you been now? enjoy your trip?" suara yang sangat tidak asing dari seberang sana, suara dia yang terlintas di angan saya tadi. 
"Hi, Im inside the train maybe I am about somewhere in central java, looking at amazing view, wish you were here," jawab saya dengan senyum yang mengembang pastinya.
"Oh, good, i wished but i could not, still busy, im sorry. Enjoy your trip and keep me updated, I will give you kisses when you are back! i miss you, take care!" 
"I miss you too, bye."
Percakapann singkat yang melengkapi indahnya pemandangan di luar jendela itu pun berakhir. 
Pandangan saya kemudian kembali lagi menghadap kedua ibu yang duduk di hadapan saya tadi, sepertinya mereka menyimak percakapan dan mimik muka saya ketika berbicara dengan dia di telepon tadi. Entah apa yang mereka pikirkan tentang saya, saya hanya membalas senyuman mereka dan kemudian terlelap di tengah jalannya gerbong kereta. Perjalanan masih panjang....


Gajah Wong Train, Pasar Senen-Lempuyangan

15:00 ....
"Pecel, Pecel, Pisang Sale...Gethuk Goreng...,murah bu, bisa ditawar!"
Suara pedagang pedagang yang masuk ke gerbong kereta, membangunkan saya. Waktu menunjukkan pukul 3 sore , 2 jam lagi perjalanan akan berakhir. Saya lapar dan pecel bakwan dengan sambal kacang di bungkus dengan daun pisang yang ditawarkan oleh pedagang itu cukup menggelitik perut saya.
"Saya mau pecel nya bu, satu."
"Minumnya juga mbak? ada es buah lho" pedagang itu mencoba menawarkan dagangan temannya yang membawa es buah dalam gelas plastik.
"Nggak bu, pecel saja, berapa harganya?"
"Delapan ribu saja mbak."
Dengan hanya menggunakan daun pisang sebagai piring dan 2 sumpit yang terbuat dari bambu, saya melahap habis pecel bakwan tersebut. Enak ! Kenyang !
17:00 ...
Tibalah saya di stasiun lempunyangan, Jogjakarta. Adik saya satu satunya, terkejut ketika menjemput saya, melihat saya hanya membawa satu buah tas ransel yang besarnya melebihi badan saya.
"Aneh-aneh aja" gumam adik saya. 
Saya sudah terbiasa dengan komentar-komentar adik saya. Adik saya ini, terlihat seperti pendiam, tapi celetukan celetukannya yang spontan terkadang terdengar lucu.
Meluncurlah kami dengan motor, keliling kota Jogja di sore hari, melewati gank - gank kecil, udara sejuk mulai terasa, spanduk iklan bertuliskan laundry, terima kost, dan cuci sepeda motor, muda mudi yang berkendara motor, tenda angkringan yang sudah mulai buka terlihat meramaikan kota Jogja di sore hari.

Saya hanya singgah di Jogja sebentar, pukul 19:00 saya sudah berada di dalam bus damri dari airport Jogja menuju Magelang. Perjalanan yang saya tempuh kurang lebih satu jam, sampai akhirnya saya turun di daerah sebelum mencapai kota Magelang pusat, tepatnya di daerah Palbapang.
Gerimis turun ketika saya turun dari bus. Tidak lama saya menunggu, seorang bapak ojek sudah menghampiri saya, setelah tawar menawar singkat, bapak ojek itu sepakat untuk mengantarkan saya ke desa Borobudur dengan tarif 20.000 rupiah.
Hujan semakin deras mengguyur ketika kami menuju desa Borobudur. Jalanan yang sangat sepi, gelap, licin, angin malam yang menusuk kulit dan tetes air hujan seakan menyambut kedatangan saya.

21.00

Dengan badan yang menggigil dan rambut yang sedikit basah oleh tetesan hujan, sampailah saya di sebuah penginapan tua yang terletak tepat dibelakang pagar Candi Borobudur, "Hotel Bumi Sambhara". Tidak mengherankan apabila bapak ojek yang mengantarkan saya tadi agak bingung untuk menemukan hotel kelas melati nan tua ini. Bumi Sambhara tersembunyi di belakang galeri lukisan yang berseberangan dengan hotel baru bintang 3, 'Hotel Manohara" yang menjadi tempat favorit para turis, terutama turis mancanegara yang bukan backpacker style.
Untuk mencapai Bumi Sambhara, saya harus melewati gank kecil disebelah galeri lukisan tersebut, dimana jalannya masih berupa tanah berbatu, belum diaspal dan tidak ada cahaya penerangan yang cukup. Turunnya hujan membuat saya harus lebih berhati hati untuk melewati jalanan yang licin dan menghindari kubangan air yang timbul di sepanjang jalan.
Seorang penjaga laki-laki paruh baya keluar dari pagar hotel, menyambut kedatangan saya, rupanya dia receptionist merangkap security sekaligus bell boy di penginapan itu. Pak Penjaga, demikian saya memanggilnya, mengantarkan saya ke salah satu kamar yang berjajar di samping kanan bangunan berbentuk joglo, yang biasa disebut sebagai pendopo, bangunan tersebut terbuka dengan atap dan tiang-tiang yang menyangganya tanpa balutan dinding disekelilingnya.
Ketika memasuki kamar, saya merasa agak takut, kamar saya berupa bangunan tua, dengan aroma tua dan lapuk yang menyeruak dari furniture di dalamnya. Bahkan tidak ada lampu di dalam kamar mandinya. Saya agak ragu untuk menginap di kamar itu, sempat terpikirkan oleh saya untuk pindah tempat, tetapi ketika melayangkan pandang ke pendopo yang terlihat dari jendela kamar dan meresapi kesunyian yang sangat terasa di tempat itu, saya mengurungkan niat saya untuk pindah. Apalah yang bisa saya harapkan dengan hanya membayar 50.000 rupiah semalam untuk sebuah kamar, batin saya, saya juga tidak akan menghabiskan seharian waktu saya di tempat ini, batin saya lagi.
Lamunan saya buyar ketika Pak Penjaga datang membawakan handuk, selimut, dan segelas teh manis panas untuk saya.
"Terimakasih, Pak"ucap saya.
"Selamat datang di Bumi Sambhara mbak, semoga bisa tidur nyenyak, saya akan berjaga-jaga di pos dekat pintu gerbang." ucap Pak Penjaga yang lalu meninggalkan saya.
Dinginnya udara, mengurungkan niat saya untuk mandi malam itu. Setelah menyeruput teh panas, saya segera merebahkan badan saya di atas tempat tidur. Dengan lampu kamar yang saya biarkan menyala, saya pun terlelap di tengah dingin dan kesunyian desa Borobudur.
Demikianlah malam pertama saya di Borobudur...

17 Desember 2012, 04:30 ....

Saya terjaga dari tidur oleh bunyi alarm saya, 04:30. Mata saya masih berat, ingin rasanya kembali meutupnya dan menarik selimut lagi, tetapi saya tidak mau melewatkan munculnya sang mentari pagi di Puntuk Setumbu.

Handphone saya bergetar lagi, oh ada 1 pesan dari BBM , dari J tapi bukan J kekasih saya :
"Saya memandangi foto-foto kamu tadi malam, saya rindu kamu" (R)
" Oh ya, thank you, saya sedang pergi sekarang, tidak bisa bertemu kamu"(D), balas saya.

Handphone saya bergetar lagi, kali ini pesan sms dari ojek yang saya sewa untuk mengantarkan saya ke Punthuk Setumbu pagi ini:
"Mbak Agnes, apakah sudah siap? saya sudah di pagar depan, jangan lupa bawa senter." 

Di dalam kegelapan pagi buta dan udara dingin yang menembus kulit dan tulang saya, dengan membonceng ojek, saya menuju bukit Punthuk Setumbu, yang terletak di sebelah barat candi Borobudur. Angin pagi membuat saya benar-benar menggigil, kabut yang menyelimuti pagi mengaburkan pandangan saya. Saya hanya diam selama perjalanan, menahan dinginnya pagi dan pikiran saya pun melayang, seandainya tukang ojek ini ingin berbuat jahat, bisa saja dia menurunkan saya di tengah kegelapan ini, di tempat yang saya sama sekali tidak punya bayangan akan keadaannya, bisa saja dia dengan paksa meminta uang dan handphone saya lalu membunuh saya dan melemparkan saya ke jurang di tengah kegelapan ini tanpa saya bisa melakukan perlawanan. Lamunan saya tersebut semakin membuat saya terdiam, tercekam, dan tanpa sadar saya berkata dalam hati:
"Tuhan, saya serahkan nasib saya padamu, apapun yang akan terjadi."
Ternyata di alam bawah sadar saya masih menyebut Nama-Nya, yang selama ini sudah jarang saya ucapkan atau sekedar menyebut-Nya dalam hati.

Saya mulai menghembuskan nafas saya dalam-dalam ketika tukang ojek itu mengatakan bahwa kami sudah sampai di kaki bukit Puntuk Setumbu.  


Di kaki bukit, terdapat pos penjagaan, ada beberapa laki-laki muda yang berjaga disitu, main kartu sembari minum kopi dan mengobrol. Setelah meminta ijin untuk naik ke atas bukit, masih di tengah gelapnya pagi, saya, ditemani oleh tukang ojek itu, menembus jalan setapak yang menanjak menuju puncak bukit. Tanjakan yang licin oleh tetesan embun pagi, batang dan akar pohon yang mencuat di sepanjang jalan, dan dedaunan yang melambai sampai menjuntai menyapu tanah, seakan menyapa langkah kaki para pendaki bukit. Untungnya, selain menyewa motor ojek saya juga menyewa tukang ojek itu sebagai guide, seandainya saya hanya minta diantar sampai kaki bukit saja, mungkin saya sudah tersesat di tengah jalan setapak yang masih diselimuti kegelapan ini. Kira-kira 30 menit dari kaki bukit, saya sudah mencapai puncak bukit. Karena masih gelap dan berkabut tebal, saya tidak dapat melihat pemandangan sekitar dengan jelas, namun saya tetap berusaha untuk mengabadikan suasana pagi itu dengan jepretan kamera.


Sunrise Punthuk Setumbu

Borobudur Siluet from Punthuk Setumbu
05.45....
"
Siluet candi Borobudur yang diselimuti oleh kabut samar-samar muncul ketika sang mentari mulai melepaskan semburat cahaya kuningnya. Begitu pula siluet gunung merapi dan gunung merbabu yang berdiri berdampingan juga mulai muncul. Indah. Hanya itulah kata yang bisa saya ucapkan untuk mengagumi lukisan pagi Sang Pencipta. Langit biru nan gelap yang perlahan berubah warna menjadi sinar kekuningan, seakan menjadi lampu opera yang menyorot barisan candi Borobudur dan kedua gunung Merapi dan Merbabu sebagai bintang-bintang utama nya serta pepohonan dan sawah yang menjadi background panggungnya.

Saya terdiam sejenak setelah beberapa lama sibuk mengabadikan fragmen munculnya sang mentari. Memejamkan mata dan menghirup segarnya udara pagi serta merasakan hangatnya sinar mentari menerpa wajah saya. Perasaan damai mengisi kalbu saya.
Ketika saya membuka kedua mata saya, beberapa turis lain mulai berdatangan, dan semuanya turis asing. Hanya saya seorang saja turis lokal yang berdiri disitu.
"What time did you arrive here?" tanya seorang turis perempuan dari Jerman.
"5.00 a.m and that was only me and my guide here" jawab saya.
"Wow, how brave you are! but it is worth it for you to wait for that long, i think."
"Yes, it is worth enough and another thing i get is whether you can trust to another else or not when you rely yourself on them. Enjoy your time then, bye." jawab saya sembari mengakhiri percakapan kami.
"Ok, you too, have a nice day!" jawabnya tersenyum.
Saya pun melangkahkan kaki turun, meninggalkan Puncak Punthuk Setumbu dengan perasaan puas, senang, takjub, dan syukur atas kesempatan yang telah diberikan oleh Alam Semesta kepada saya untuk menikmati keindahan alamnya.